Korat-Karet Gorengan kopi
Dijumputi di wadahi cenTong
Amet-amet perawan sa'iki
nGgawe Kudung di gawe Payong.
CUPLIKAN INI SANGAT MENARIK UNTUK DIBAHAS, baru kali ini saya melihat status teman saya IRFAN, tumbenan juga dianya menuliskan status yang membahas seputaran wanita.
BACA SELENGKAPNYA.
~Sepertinya Yel-yel pramuka yang dahulu sempat kami serukan saat SMA ini menjadi semakin Relevan, Mengingat saat ini berkerudung (Ber-Jilbab) sudah kehilangan makna religiusitas apalagi filosofisnya. Ia kini hanya makna simbolis saja, hanya Trend semata!.. Dengan alasan "gaya hidup" dan "menyesuaikan zamannya" para wanita sudah kehilangan keotentikan dari dirinya sendiri.
Meminjam kata Martin Heideger ttg "manusia otentik", bahwa wanita sudah tertumpuk dalam dirinya kepentingan-kepentingan struktur sosial yang mengakar, hanya hasrat yang bermain bukan akal. Pilihannya ditentukan oleh pasar. Oleh sistem nilai yang sudah menjadi kebenaran (semu) dlm masyarakat, dijelma oleh budaya populer yang serba ekstatif (melenakan).
Disudut yang lain, begitupun yang sudah berjilbab Syar'i, sebagian dari mereka yang mengkampanyekan jilbab syar'i, ternyata pemikirannya tidak se-syar'i jilbabnya. Dengan Burqa sucinya ia mengkampanyekan ketidaksucian pemikirannya. Kampanye dan parade pengkafiran disebar dan dipropagandakan. Tampilannya tertutup rapat, tapi aurat pemikirannya mereka lacurkan kepada yang selain "cinta", palu vonis "sesat, bid'ah,dan kafir" mereka tentengkan, Qur'an dan asma Tuhan yang awalnya menentramkan menjadi mengerikan. Terlepas konsep apa yang mereka pakai dalam mendefinisikan kata "syar-i".
Dari dua masalah diatas; Wanita muslim hari ini ditempatkan pada situasi yang begitu pelik. Mereka mengalami problem identitas yang rumit. Untuk membebaskan mereka tidaklah gampang, tidak cukup dengan analisis relasi MDH saja. Karena ini sudah menyentuh problem identitas, dan identitasnya sudah membudaya membuat kontruksi sistem nilai sendiri dari wanita. Kalau kawan2 Matrealis jeli, ini sudah bukan problem hierarkis patriarki semata, tapi ini menjadi problem filosofis, ada masalah rasionalitas dalam diri perempuan yang belum selesai, Masalah jati-diri keperempuanannya.
Jadi, dari segi "pembebasan", maka ketika bicara perempuan, yang harus diselesaikan dahulu adalah yang hakiki daripada jiwanya. Sifat-sifat apa yang oleh kontruksi sosial dianggap inferior harus didudukkan ulang untuk menemukan superioritas dalam diri perempuan. Jadi perempuan diberi ruang dialektika (intelektual) yang setara dengan laki-laki. Setelah itu barulah kemudian bicara tentang nilai dari tugas perempuan dalam masyarakat, (sy rasa bicara nilai dlm masyarakat itu bicara kesepakatan; disamping ada hak dan kewajiban perempuan).
Pada tahun 1980, muncul paham ecofeminisme di Barat. Jika kaum feminisme sebelumnya (ilhamnya;marx) menganggap bahwa mereka dari sisi kualitas keperempuanannya adalah hasil dari dominasi patriarkat yang maskulin, maka ecofeminisme membalik tuntutan itu. Apa yang dianggap inferior oleh feminisme, oleh ecofeminisme dianggap superior. Mereka berangkat dari fakta kosmik yang menurut mereka terlalu berat kepada maskulinitas, dan perempuan sudah menjadi "male clone", sehingga kehilangan jiwanya sendiri. Oleh sebab itu perampokan, penjarahan, kesombongan, kerakusan dll yang menurut mereka adalah watak maskulin menjadi dominasi di bumi. Menurut mereka, Bumi tidak lagi dikenal sebagai ibu-pertiwi tapi bapak pertiwi dengan karakternya yang serba maskulin. Wanita mulai kehilangan tugas reseptif, mendidik, memanjakan dll. Tapi pandangan eco feminisme ini terlalu berat sebelah, sehingga menilai "segala" sifat maskulin selalu dimaknai negatif.
Dari sini, harusnya mulai ada langkah-langkah rasional dan kosmologik dalam mengkaji masalah perempuan ini. Perempuan mulai dibebaskan pemikirannya secara epistemik untuk menentukan dirinya sendiri, melampaui kontruksi2 lingkungannya. Ia ditempatkan pada posisi yang dengan laki-laki, ia menjadi paham maknawinya secara hakiki di alam. Walaubagaimanapun, kita tidak bisa pungkiri adanya perbedaan kualitas jiwa antara perempuan dengan laki-laki, atau bahkan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Yang jelas salah satu dari kualitas itu ada yang bersifat feminim dan ada yang bersifat maskulin.
Dalam hal perempuan; antarlah perempuanmu menemukan dirinya sendiri, dan tempatkan ia pada relung yang dengan laki-laki sebagai dirinya sendiri ia memiliki kekayaan intelektual dan spiritual sebagai pondasi kebahagiaan. Dalam relasi kasih-dan-sayang pondasi kebahagiaan inilah yang nantinya bisa dirumuskan menjadi aktualisasi konsep Sakinah, Mawaddah, Warahmah (SAMAWA). Jika sudah bicara SAMAWA maka tidak ada lagi perempuan yang bicara nilai berdasarkan Trend, apalagi yang mudah bicara "kafir, bidah, dan sesat". Yang ada hanya spirit pengorbanan cinta kepadaNya.
Perempuan adalah manifestasi dari keindahan, yang artinya "mendidik satu perempuan sama halnya mendidik satu generasi keindahan".

0 komentar