Hari libur bukan berarti berhenti beraktivitas. Karena hari libur, aktivitas untuk mengembangkan skill pun semangat mereka jalani karena kecintaan mereka dengan belajar. Minggu pagi, Mobile Books Collection Indonesia (MBC Indonesia) melangsungkan salah satu programnya, yakni Anjangsana. Program berkunjung ke yayasan atau komunitas untuk berbagi kebahagiaan dan inspirasi.
Bekerjasama dengan perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat (PERPUSTIM), Sukorejo Sidoarjo Jawa Timur, tim MBC Indonesia datang dengan penuh semangat di kelas karakter, program dari PERPUSTIM yang berlangsung setiap minggu pagi bagi anak anak disekitar. Ide yang cemerlang dari sosok Pak Fauzi selaku founder PERPUSTIM Sidoarjo, yang semangat menggerakkan literasi melalui buku.
Dalam kelas karakter ini hampir tidak ada satu anak pun yang tidak suka membaca. Semua suka membaca buku. Yang paling menarik, setiap anak sudah manyadari betapa pentingnya membaca untuk mereka tau dunia dalam satu genggaman, membaca.
11 anak dengan mimpi mimpi besar itu semangat menuliskan mimpinya dalam kertas dengan dampingan tim MBC Indonesia, Anifa, Ratih dan Vidy. Selain menuliskan mimpi, merka juga diminta untuk menuliskan alasan apa yang mendorong mereka untuk mewujudkan mimpi itu. Menuliskan mimpi dan alasannya dikertas masing masing ini bertujuan agar mereka tetap bisa membaca mimpinya, dan menjadi semangat untuk mewujudkannya setelah membaca alasan memilih cita cita itu yang juga tertulis dalam kertas.
Di kelas karakter ini, Pak Fauzi sangat terbuka bagi siapapun pemuda/dewasa, siswa, mahasiwa , profesional yang terketuk hatinya untuk berbagi di kelas karakter setiap minggu pagi bersama anak anak pejuang mimpi ini. Sebab disadari atau tidak, masih banyak manusia apatis disekitar kita. Untuk itu berkoar mengajak orang untuk peduli rasanya susah susah gampang, untuk itu solusi terbaik adalah dimulai dari diri sendiri untuk peduli, hingga mengetuk hati orang lain untuk bergerak memberikan kontribusi materi maupun non materi.
Untuk datang langsung melihat kondisi PERPUSTIM Sidoarjo, bisa langsung mencari di mesin pencarian google, karena akan muncul peta lokasi yang mudahkan untuk menuju lokasinya. Sedikit kutipan dari Pak Fauzi, yang juga pernah meramaikan panggung Kick Andy “ Orang pintar dan kaya itu banyak. Tapi kita butuh orang yang peduli dan mau beraksi”. (Nif)
Kabupaten Garut, di Jawa Barat, kembali diterjang bencana banjir bandang dan tanah longsor. Banjir dan longsor yang diakibatkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang turun sejak Selasa lalu, telah membuat banyak tempat di Garut terendam banjir, tertimbun longsor, yang bahkan hingga menyebabkan korban jiwa.
Melihat kondisi ini, tentunya banyak pihak yang turut bersimpati dan merasa berkewajiban untuk membantu kesulitan warga Garut yang tertimpa bencana. Berbagai bantuan pun kini mulai mengalir untuk meringankan beban dan penderitaan warga.
Salah satu pihak yang telah turut membuka posko bantuan untuk bencana tersebut adalah Front Pembela Islam atau FPI. DPW FPI Garut membuka posko bantuan bencananya disekitar wilayah Garut Kota. Selain membuka Posko Bencana, tentunya anggota FPI juga terlibat langsung sebagai tenaga relawan guna membantu para korban bencana.
"Relawan FPI Garut peduli bencana. DPW FPI Garut sudah membuka posko di Kp Rengganis RW 02, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota," ujar Habib Rizieq Shihab, Imam Besar FPI, melalui akun Fanspagenya.
Bencana Banjir dan Longsor di Garut, memang begitu berdampak pada kehidupan dan aktivitas masyarakat. Melihat kondisi ini, Habib Rizieq lantas menyerukan kepada masyarakat dan juga Netizen untuk bisa bersama-sama membantu kesulitan warga dengan mengirimkan bantuan berupa makanan, obat-obatan dan pakaian.
Bagi yang berniat untuk turut membantu, bisa mendatangi langsung posko bantuan bencana FPI tersebut dan menghubungi relawan FPI yang bertugas di lapangan atau melalui nomor0852 2358 0409, yang bisa dihubungi di setiap waktu. BDLV/TM
SUMBER: SOERA RAKJAT
Seorang wanita di China mendapat pujian dari netizen karena kekuatannya yang luar biasa.
Bagaimana tidak, meskipun tak memiliki dua tangan, tetapi ia tetap menyusui anaknya seperti ibu-ibu pada umumnya.
Foto Xiang Liping yang tengah menyusui bayi perempuannya beredar viral di media sosial. Foto tersebut menunjukkan bagaimana hebatnya perjuangan seorang ibu.
Oleh karena tak memiliki tangan, wanita 28 tahun itu menyangga kepala bayi dengan kakinya.
Seperti dikutip dari CCTV News, Jumat (1/7/2016), Xiang tersambar petir sehingga harus kehilangan dua lengannya di usia empat tahun.
Meskipun menerima kenyataan pahit, tetapi ia tak pernah menyerah. Ia belajar bordir dan menggunakan internet untuk mengetahui dunia luar.
Ketika menceritakan kisah hidupnya ke dunia maya, banyak yang tersentuh dengan apa yang dialami Xiang.
Termasuk seorang lelaki asal Guangxi yang kini menjadi suaminya. Lelaki tersebut jatuh cinta pada Xiang dan memutuskan untuk menikahi wanita tersebut.
Dua tahun kemudian, putri pertama mereka lahir.
Saat membuat bordir, Xiang menggunakan dua kakinya untuk memegang jarum dan benang. Begitu pula saat makan, ia juga menggunakan jari kaki. (*)
Karawang (2/7) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Karawang membuka posko mudik yang berlokasi di Saung Bambuku, Jl. Sudirman Kotabaru, setelah jembatan flyover pasar Cikampek – Karawang.
Pengalaman unik terjadi saat relawan Posko Mudik PKS sedang melayani pemudik, Sabtu (2/7). Ketika beberapa pemudik mulai mampir ke Posko Mudik PKS, diantaranya datanglah pemudik yang masih terlihat muda berboncengan berdua bersama satu orang putrinya yang masih kecil. Relawan menyapa dengan senyum dan mempersilahkan parkir di tempat yang telah disediakan, serta diarahkan ke tempat istirahat.
"Mas dan Mbak dari mana, hendak mudik kemana?" tanya salah satu relawan posko sambil menawarkan fasilitas yang ada di posko.
"Kami dari Depok, mau mudik ke Tegal, Jawa Tengah pak," jawab pemudik.
"Ada kamar mandi dan mushola, Kalau mau ngopi silahkan, atau mau makan mie juga ada. Adik juga mau mie?" tanya relawan menawarkan mie ke anak si pemudik. "Ga usah khawatir, ini semua gratis, ga usah bayar," lanjut relawan posko sambil mempersilahkan duduk.
Sambil melongo pemudik tersebut kaget, dan berucap, "Hah, beneran ini gratis Pak?" ucapnya.
"Iya pak ini semua gratis, sesuai dengan jargon PKS yaitu Berkhidmat Untuk Rakyat, maka dalam rangka arus mudik ini, kami (PKS) juga ingin berkhidmat untuk para pemudik," jawab relawan posko sambil melayani membuatkan mie dan kopi panas.
Setelah dirasa cukup istirahatnya, mereka berdua pamit untuk melanjutkan perjalanan, sambil dibantu mengeluarkan motornya dari parkiran. Pemudik tersebut mengeluarkan dompet sambil bertanya, "Parkirnya berapa pak?"
Relawan posko menjawab dengan santun, "Ga usah bayar Mas, gratis."
"Haah, gartis lagi? Aduuh makasih ya pak, makasih PKS, makasih Karawang," katanya lagi sambil tersenyum puas
sumber: pks.id/
sumber: pks.id/
Hafal Al-Qur’an Gratis Selamanya Minum Jamu Salah satu foto yang menjadi perbincangan di media sosial Facebook, yaitu sebuah tulisan yang menyatakan jika hafal Al-Qur’an, maka gratis minum jamu selamanya. Sontak saja, gambar unik tersebut langsung viral dan menjadi perbincangan hangat dari para netizen.
Hafal Al-Qur’an Gratis jamu, bermula ketika salah satu pedagang jamu tradisional lakukan promo yang sangat unik sekaligus memberinkan inspirasi, jika ia menawarkan minum jamu sepuasnya bagi siapa saja yang memang asli hafal Quran. Foto tersebut ia unggah di Funpage Facebook, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia, pada hari Rabu, 2 Desember 2015 kemarin, yang langsung mendapatkan pujian dan apresiasi bagi si tukang jamu.
Menurut si pedangang, siapapun boleh mengikuti promo ini asalkan memang dia adalah seorang tahfidz Quran. maka, mereka gratis meminum jamu tradisional sepuasnya. salah seorang netizen mengomentarai positif foto tersebut. “Keren gan, Jualan yang juga membawa sebuah pesan moral,” Uniknya lagi, bukan hanya soal jamu saja yang dia tekankan, akan tetapi sudah saatnya generasi muda untuk hobbi membaca.
Terlihat di belakang gerobah, si penjual jamu membawa beberapa buku dengan tujuan bisa dibaca oleh para pembelinya. Malahan, tertulis ‘sa iki jamane moco’ artinya, ” sekarang ini zamannya membaca”.
Kontan saja, aksi heroik yang dilakukan oleh si penjual jamu tersebut dianggap bisa menginspirasi setiap pedagang. Supaya mereka bukan hanya mencari rezeki, akan tetapi memberikan sebuah ajakan menuju kearah yang lebih baik, dengan rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Ilustrasi (www.cifaclub.com)
Probolinggo, NU OnlinePagelaran “Tarung Bebas” kembali diselenggarakan di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, pada 30 April 2016. Ajang ini bakal menjadi wahana unjuk kebolehan para petarung di atas ring dengan disaksikan puluhan ribu penonton.
Dibanding pertunjukan silat lainnya, tarung bebas terbilang istimewa lantaran tak mengandung unsur rekayasa. Pesertanya pun tidak khusus pendekar dari perguruan silat. Para petarung bisa siapa pun, mulai dari preman, santri, tukang becak, dan lainnya. Para pesilat tidak hanya dari kalangan Pencak Silat NU Pagar Nusa tetapi juga dari Setia Hati, Tapak Suci, Taekwondo, Wing Chun, Boxing, dan lain sebagainya.
Pesantren Zainul Hasan selaku tuan rumah telah mempersiapkan acara ini sejak jauh-jauh hari. Rencananya, acara tarung bebas dimulai pukul 18.00 hingga 24.00 WIB di halaman P5, pesantren asuhan Ketua PWNU Jatim itu.
Sistematika pertandingannya, dua petarung berjibaku di atas ring tinju, malam itu. Beberapa kali mereka harus bergelut di pojok ring. Berkelit lalu menyerang balik. Melepaskan jotosan. Tendangan keras dan membanting lawan. Menyajikan pertarungan brutal namun tetap sportif dan bersahabat. Sesuai dengan motonya "Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan".
Dilengkapi dengan ring tinju setinggi 2 meter, para petarung tidak menggunakan body protector (pengaman badan) ataupun head protector (pengaman kepala). Sasaran serangan bebas sebebas-bebasnya. Hanya ada dua aturan dalam pertarungan ini. Pertama, tidak boleh menggunakan senjata, jimat dan aji-ajian. Artinya, hanya dengan tangan kosong. Kedua, lawan harus seimbang.
Di atas ring ada 3 orang pendekar senior yang didaulat menjadi wasit. Wasitlah yang menentukan imbang tidaknya petarung, dan wasit juga yang menentukan kapan pertarungan dihentikan.
Panitia sendiri menyiapkan tim medis lengkap dengan ambulans jika didapati peserta yang terluka dan cedera. Serta pengaman dari Pagar Nusa jika dikhawatirkan terjadi tawuran. Selama pertandingan berlangsung, iringan musik tradisional gamelan dan gendang bergema. Itu dilakukan agar suasana antarpesilat yang bertarung tidak memanas.
Ketua Panitia Pelaksana, Moh Haris Damanhuri mengatakan, pesilat yang ikut bertarung tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga sejumlah daerah lain di Tanah Air, seperti Lampung.
“Pertarungan ini ada historinya. Seiring perkembangan zaman, seni bela diri ini dijadikan ajang persahabatan dan merekatkan tali persaudaran. Tidak ada hadiah yang dikejar di sini, selain itu para pesilat diharapkan tetap menjaga sportivitas sepanjang pertandingan,” pungkas Gus Haris.
Almarhum KH Maksum Jauhari, pengasuh Pondok pesantren Lirboyo, Kediri, merupakan pelopor pertarungan khas NU Jawa Timur ini. Konon, asal usul tarung bebas ini Berawal dari banyaknya kasus tawuran antar Perguruan Silat di Jawa Timur, begitu juga banyaknya kasus pengeroyokan bagi orang yang lemah serta kasus premanisme. Hingga akhirnya kiai berambut Gondrong ini berinisiatif mengadakan pertarungan bebas di atas ring agar keberanian itu tidak hanya di luar tetapi hasrat dan nafsu tawuran itu tersalurkan di atas ring. (Moh Nasirul Haq/Mahbib)
Dibanding pertunjukan silat lainnya, tarung bebas terbilang istimewa lantaran tak mengandung unsur rekayasa. Pesertanya pun tidak khusus pendekar dari perguruan silat. Para petarung bisa siapa pun, mulai dari preman, santri, tukang becak, dan lainnya. Para pesilat tidak hanya dari kalangan Pencak Silat NU Pagar Nusa tetapi juga dari Setia Hati, Tapak Suci, Taekwondo, Wing Chun, Boxing, dan lain sebagainya.
Pesantren Zainul Hasan selaku tuan rumah telah mempersiapkan acara ini sejak jauh-jauh hari. Rencananya, acara tarung bebas dimulai pukul 18.00 hingga 24.00 WIB di halaman P5, pesantren asuhan Ketua PWNU Jatim itu.
Sistematika pertandingannya, dua petarung berjibaku di atas ring tinju, malam itu. Beberapa kali mereka harus bergelut di pojok ring. Berkelit lalu menyerang balik. Melepaskan jotosan. Tendangan keras dan membanting lawan. Menyajikan pertarungan brutal namun tetap sportif dan bersahabat. Sesuai dengan motonya "Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan".
Dilengkapi dengan ring tinju setinggi 2 meter, para petarung tidak menggunakan body protector (pengaman badan) ataupun head protector (pengaman kepala). Sasaran serangan bebas sebebas-bebasnya. Hanya ada dua aturan dalam pertarungan ini. Pertama, tidak boleh menggunakan senjata, jimat dan aji-ajian. Artinya, hanya dengan tangan kosong. Kedua, lawan harus seimbang.
Di atas ring ada 3 orang pendekar senior yang didaulat menjadi wasit. Wasitlah yang menentukan imbang tidaknya petarung, dan wasit juga yang menentukan kapan pertarungan dihentikan.
Panitia sendiri menyiapkan tim medis lengkap dengan ambulans jika didapati peserta yang terluka dan cedera. Serta pengaman dari Pagar Nusa jika dikhawatirkan terjadi tawuran. Selama pertandingan berlangsung, iringan musik tradisional gamelan dan gendang bergema. Itu dilakukan agar suasana antarpesilat yang bertarung tidak memanas.
Ketua Panitia Pelaksana, Moh Haris Damanhuri mengatakan, pesilat yang ikut bertarung tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga sejumlah daerah lain di Tanah Air, seperti Lampung.
“Pertarungan ini ada historinya. Seiring perkembangan zaman, seni bela diri ini dijadikan ajang persahabatan dan merekatkan tali persaudaran. Tidak ada hadiah yang dikejar di sini, selain itu para pesilat diharapkan tetap menjaga sportivitas sepanjang pertandingan,” pungkas Gus Haris.
Almarhum KH Maksum Jauhari, pengasuh Pondok pesantren Lirboyo, Kediri, merupakan pelopor pertarungan khas NU Jawa Timur ini. Konon, asal usul tarung bebas ini Berawal dari banyaknya kasus tawuran antar Perguruan Silat di Jawa Timur, begitu juga banyaknya kasus pengeroyokan bagi orang yang lemah serta kasus premanisme. Hingga akhirnya kiai berambut Gondrong ini berinisiatif mengadakan pertarungan bebas di atas ring agar keberanian itu tidak hanya di luar tetapi hasrat dan nafsu tawuran itu tersalurkan di atas ring. (Moh Nasirul Haq/Mahbib)
SUMBER :NU Online
Suasana diKampung Janda sepintas sama seperti kampung biasanya, banyak warga yang melakukan aktifitas di sekitar rumahnya.
Namun saat siang hari, di Kampung Janda ini, aktifitas warganya lebih didominasi oleh para perempuan dan anak-anak.
Ibu-ibu mengenakan daster, terlihat asyik mengobrol di warung, atau di depan rumah mereka.
Sementara para suami dan anak laki-lakinya yang sudah besar, jarang terlihat karena sebagian besar sedang bekerja di galian pasir, di atas bukit.
Beberapa, tidak memiliki suami karena suaminya meninggal, atau karena cerai.
Kampung Panyarang di Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong,Kabupaten Bogor ini memang akrab disapa Kampung Janda oleh warga sekitar, karena banyak perempuannya yang menjadi janda.
Usianya beragam, mulai dari 14 tahun hingga lanjut usia sekitar 60-70 tahun.
"Di RT saya saja, dari 65 kepala keluarga (KK), ada sekitar 30 perempuan yang menjanda," kata Ketua RT 05, Ade Suryadi kepada TribunnewsBogor.com, Kamis (31/3/2016).
Para perempuan itu, kata dia, menjanda akibat banyak hal, ada yang suaminya meninggal tertimbun galian pasir, atau meninggal karena penyakit.
"Di kampung sini kan sekitar 80 persen warganya bekerja sebagai penambang galian di atas," ujarnya.
Ia menuturkan, beberapa tahun yang lalu pernah terjadi longsor di galian pasir sehingga menewaskan ratusan orang.
"Nah makanya istri-istrinya pada menjanda, dan longsor yang menelan korban jiwa di sana bukan sekali dua kali saja," jelasnya.
Selain itu, faktor nikah muda di kampung tersebut juga menjadi penyebab banyaknya perempuan yang menjanda.
"Di sini ada yang umur 17 tahun sudah jadi janda dua kali, 12-14 sudah pada menikah dan jadi janda. Saya saja sudah punya cucu, padahal usia masih 30 tahunan," ujarnya sambil tertawa.
Karena minimnya pendidikan, akhirnya para orang tua memutuskan untuk menikahkan anak perempuannya meski masih berusia dini.
"Rata-rata di sini mah lulusan SD semua, jarang ke SMP. Mau sekolah SMP apalagi ke SMA jauh, cuma ada SD di sini. Makanya daripada bengong-bengong di rumah ya sudah nikahin saja," jelasnya.
Kampung Janda atau Kampung Panyarang ini, masuk dalam kawasan RW 07, dan terdiri dari lima RT.
"Rata-rata satu RT itu ada sekitar 60 KK, jadi satu RW ada sekitar 300 KK, saya nggak hafal jumlah pastinya," kata Ketua RW 07, M Endang Iskandar menambahkan.
Wilayah RT 05 ini, kata dia, masuk wilayang Kampung Panyarang Lebak, karena lokasinya paling bawah.
"Kalau di atas, RT 01-03 lebih banyak lagi jandanya. Karena semua warganya kerja di galian," kata dia.
Tak hanya laki-lakinya yang bekerja sebagai penggali pasir dan pemecah batu, para perempuannya juga bekerja sebagai penyaring pasir.
Hidup Serba Kekurangan
Iis (50), seorang janda beranak enam di Kampung Panyarang, atau akrab disapa Kampung Janda ini, hidup serba kekurangan.
Di sebuah rumah yang tak layak huni, ia tinggal bersama ketiga anaknya yang sudah besar.
Satu anak perempuannya yang paling besar sudah menikah, dan dibawa suaminya ke Jakarta.
Sedangkan dua anak laki-lakinya yang masih kecil-kecil, tinggal bersama neneknya di Cijeruk.
Suaminya meninggal, saat usia anak-anaknya masih kecil, sekitar delapan tahun yang lalu.
"Sejak suaminya meninggal karena penyakit, dia jadi stress dan mengalami gangguan jiwa. Sudah tidak bisa mengurus anak-anaknya lagi," kata Ketua RT setempat, Ade Suryadi kepada TribunnewsBogor.com, Kamis (31/3/2016).
Hingga saat ini, ketiga anak Iis yang tinggal serumah dengannya sudah terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil.
"Sebenarnya secara fisik Bu Iis sehat, cuma dia nggak mau berkomunikasi dan bersosialisasi dengan siapapun, termasuk anak-anaknya," jelas Ade.
Kedua anak laki-lakinya, kini bekerja sebagai penambang pasir dan pemecah batu di galian sekitar.
"Anak-anaknya yang besar sekolah cuma sampai SD, jadi kerja ke galian, kalau yang perempuan lagi sekolah kelas 3 SMP," katanya lagi.
Kondisi rumah Iis sangat memprihatinkan, bagian atapnya sudah rusak sehingga sering bocor ketika hujan.
Kaca depan rumahnya juga sudah rusak, dan kondisi dapurnya sangat kotor tidak terawat.
Hanya ada satu ranjang, serta kasur lantai untuk alas tidur.

Tribunnewsbogor.com/Vivi Febrianti
Karena gangguan jiwa yang dialaminya, Iis tak bisa merapihkan rumah ketika ketiga anaknya sedang bekerja dan sekolah.
Sehingga kondisi rumahnya sangat berantakan dan tampak kumuh.
Apalagi, di depan rumanya terdapat kandang kambing milik tetangga, yang berdampingan dengan MCK yang sudah tidak layak.
"Bu Iis mah nggak pernah keluar, paling ke warung sekali-kali, terus ke depan rumah sebentar ntar masuk lagi diem di kamar," ujar tetangga sebalahnya, Anih.
Jangankan mengurus rumah dan anakn-anaknya, mengurus dirinya sendiri saja, Iis sudah tidak bisa.
"Makan sama buang air kadang sudah di kamarnya saja, mau dibawa ke rumah sakit juga anak-anaknya uang dari mana," kata dia.
Sayangnya, saat TribunnewsBogor.com berkunjung ke rumahnya, ketiga anak Iis sedang tidak ada di rumah.
Iis merupakan satu dari puluhan janda yang ada di Kampung Janda, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Menjalani hubungan asmara dengan harmonis dan langgeng merupakan dambaan banyak pasangan. Namun, hubungan tanpa konflik adalah hal yang bisa dibilang mustahil.
Faktanya, banyak pasangan mengalami kendala dan pertentangan dalam mempertahankan hubungan untuk terus berjalan sesuai rencana.
Namun, konflik pasangan di Arab Saudi sungguh menarik untuk dijadikan pelajaran terutama, bagi pasangan yang baru saja melangsukan pernikahan.
Dilansir Eberita.org, usai melaksanana walimah atau rsepsi pernikahan, kedua pengantin itu segera ke apartemen. Malam ini adalah malam pertama mereka.
Keduanya masih saling terdiam di atas ranjang, hanya sekali-kali beradu pandang. Tiba-tiba telepon genggam suami berbunyi. Rupanya ada beberapa orang temannya yang terlambat menghadiri walimah tadi.
“Tadi mobil kami mogok,” kata teman di balik telepon. Mereka mengabarkan posisi mereka dan akan tiba beberapa waktu lagi di apartemen, jika sang pengantin mengijinkan. Mereka tahu persis bahwa ini adalah malam pertama sehingga mereka tak mau mengganggu. Rupanya, sang pengantin tidak hanya mengijinkan, ia juga bertanya apakah mereka sudah makan.
“Belum,” jawab mereka dengan polos.
“Baiklah, nanti aku akan meminta istriku menyiapkan makan malam untuk kalian”
“Yang benar saja. Ini malam pertama, mana mungkin ada pengantin wanita yang mau masak di malam pertama.”
“Ya kalau tidak mau tinggal aku belikan makanan yang sudah jadi,” jawabnya.
Laki-laki itu kemudian memberitahu istrinya bahwa teman-temannya akan datang. “Kita siapkan makan malam untuk mereka ya, mereka datang dari jauh. Tadi mobilnya mogok. Insya Allah ini bagian dari memuliakan tamu,” sang istri mengangguk. Meskipun dalam hati ia sebenarnya agak keberatan ada tamu di malam pertama mereka.
Sang suami pamit keluar untuk ke supermarket terdekat. Tak seberapa lama, ia pun kembali sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Betapa terkejutnya sang istri, rupanya suaminya membeli bahan-bahan mentah. Bukan makanan yang sudah jadi.
“Tolong masakkan untuk tamu kita ya,” kata sang suami. Mendengar ini, tangis sang istri hampir pecah. Ia disuruh masak di malam pertama? Tapi demi mentaati suami yang baru malam ini mereka berduaan, sang istri tidak protes. Ia bergeges pergi ke dapur yang lokasinya menyatu dengan ruang tamu apartemen itu.
Sang suami tidak tahu, saat mulai memasak, mata istrinya sudah berkaca-kaca. Ia tak habis pikir mengapa ia harus masak di malam pertama. Ada butir-butir bening mulai membasahi pipinya.
Bel berbunyi. “Assalamu’alaikum…” ucap salam terdengar serentak saat sang suami membukakan pintu. Rupanya teman-temannya telah datang, tepat di saat istrinya hampir selesai memasak.
Melihat pengantin wanita itu memasak, 10 pemuda itu terpana. Mereka tak menyangka bahwa mereka akan dijamu dengan makan malam yang dimasak oleh pengantin baru.
Selesai makan dan mengucapkan selamat serta sedikit bincang-bincang, mereka undur diri. Tak lupa mereka meminta maaf karena telah mengganggu.
Ketika sang suami mengantar mereka ke depan pintu ruang apartemen, istrinya membatin. “Mungkin sebaiknya besok aku minta diantar pulang ke rumah orangtua.” Namun betapa terkejutnya muslimah itu, sang suami masuk ke apartemen sambil memberikan uang 50 ribu riyal kepadanya.
“Apa ini?”
“Ternyata tadi teman-temanku saling berjanji satu sama lain, jika engkau mau memasak di malam pertama ini, masing-masing mereka akan memberikan 5.000 riyal. Dan mereka tidak membayangkan ada istri shalihah sepertimu yang mau memasak di malam pertama demi menghormati tamu suaminya.”
Masya Allah… baru saja perasaan sang istri berkecamuk dan ingin pulang ke rumah orangtua, rupanya Allah memberikan kejutan indah kepadanya.
Berkat ketaatannya kepada suami dan menghormati tamu, Allah memberikan hadiah 50.000 riyal (setara Rp 190 juta). Selain itu, ia juga mendapat pujian dari suaminya. Sebuah tanda cinta yang menghangatkan malam pertama. Dan soal malam pertama itu, masih ada waktu. Toh baru tengah malam.
Selain menjadi incaran tenaga kerja asing (TKA) resmi, Jawa Timur juga menjadi incaran pekerja asing ilegal.
Erlina Pristiwati, yang menjadi petugas tim teknis perizinan Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertransduk Jatim mengakui menemukan data adanya pekerja asing ilegal di Jatim.
“Saya pernah melihat data secara online di kementerian, jumlah TKA di Jatim hampir 5.000 orang. Sedangkan, pada 2015, yang tercatat di kami hanya 1.434 orang saja,” kata Lina, panggilan Erlina Pristiwati kepada Surya, Senin (28/3/2016).
Sisanya, diduga pekerja asing yang tidak memiliki dokumen resmi sebagai TKA.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Da’im mengatakan, dalam praktiknya, banyak tenaga kerja asing (TKA) yang tidak bekerja sesuai kompetensi. Ada yang menjadi tenaga kasar di Jatim.
Menurutnya, banyak warga Tiongkok tak berasal dari negara ASEAN masuk Jatim. Mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Misalnya, upah bagi pembantu rumah tangga di Surabaya antara Rp 1,5 juta - Rp 2 juta, sedangkan pembantu asal Tiongkok mau dibayar di bawah Rp 1 juta.
“Saya juga pernah melihat ada warga Tiongkok jual sayur di motor roda tiga di kawasan Citraland. Pekerja dari Tiongkokmemang paling banyak berada di Surabaya. Terus sekarang yang perlu diantisipasi serbuan pekerja dari Myanmar dan Thailand,” ujarnya, Senin (28/3/2016).
Menurutnya, Pemprov Jatim perlu segera mengantisipasi serbuan TKA.
Perlu ada peraturan daerah (perda) yang mengatur khusus soal TKA yang masuk di Jatim.
Pemprov memang sudah memasukkan naskah akademis dan draft perda soal TKA.
Dalam draft itu diatur bahwa TKA harus bisa sekurangnya berbahasa Indonesia dan bahasa daerah. ”Tahun ini perda itu harus sudah disahkan,” katanya.
Selain perda, menurutnya, pemprov harus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di Jatim, antara lain dengan menambah bantuan beasiswa maupun fasilitas di kampus.
Harapannya, kompetensi keilmuwan lulusan universitas di Jatim bisa bersaing dengan lulusan universitas di negara ASEAN.
SUMBER SURYA ONLINE
Air merupakan material paling penting di dunia. Ya, meskipun kadang tanpa sadar kita terbiasa membuang-buangnya, air adalah elemen utama pembentuk kehidupan. Bahkan, jika kita berkaca pada diri sendiri, sebagai besar kandungan tubuh kita terdiri dari air. Kita bisa hidup 2 minggu tanpa makan. Tapi, kita bakal langsung mati jika dalam beberapa hari saja tidak meminum air.
Lantaran air adalah sumber kehidupan, maka kita bisa bilang ia bernilai sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari emas sekalipun. Bagi kita yang hidup di Indonesia di mana air bisa didapatkan dengan sangat-sangat mudah, air mungkin tidak berarti banyak. Namun, bagi sebagian orang di tempat lain, air lebih berharga dari apa apa pun.
Deretan foto-foto ini jadi bukti sahih jika air yang menurut kita murah itu, nyatanya lebih bernilai daripada sebongkah emas sekalipun.
1. Lihatlah orang-orang India ini. Mereka sampai mengantri air seperti ini, sementara kita begitu gampangnya membuang air
Warga India mengantri Air [Image Source]
2. Warga kota Allahab, India, ini mau tidak mau harus memanfaatkan air kotor ini untuk hidup
Kondisi mengenaskan di Allahab, India [Image Source]
3. Air seperti ini bagi kita jorok, namun bagi warga Kenya adalah berkah
Warga Kenya mengambil air [Image Source]
4. Sepertinya tidak perlu dijelaskan dari mana asal air yang dibuat mandi anak kecil ini
Penduduk Kolkata mandi dengan air tercemar [Image Source]
5. Bahkan air di sela-sel rel kereta api bagi sebagian orang adalah berkah tersendiri
Seorang wanita mengambil air di sela-sela rel [Image Source]
6. Orang-orang ini bingung antara iya dan tidak untuk menggunakan air kotor itu
Penduduk yang kebingungan mencari air bersih [Image Source]
7. Potret warga Siria yang begitu mengharapkan air, padahal sumur terlihat kering
Warga Siria menanti sumur yang tidak ada airnya [Image Source]
8. Bahkan air di tanah kering seperti ini, adalah berkah bagi sebagian orang
Penduduk Afrika Selatan mengumpulkan air kotor [Image Source]
9. Warga Rohingya mengumpulkan air hujan untuk minum. Mereka mengharap belas kasih Tuhan
Warga Rohingnya mengumpulkan air hujan [Image Source]
10. Meskipun bau, warga Baghdad ini tetap mengambil air kotor itu
Warga Baghdad mengambil air yang bau [Image Source]
11. Anak kecil Ethiopia ini tak punya pilihan lain selain minum genangan air kotor di depannya
Bocah kecil Ethiopia meminum air kotor [Image Source]
12. Pun begitu dengan bocah Sudan ini, ia terpaksa akan meminum air itu
Bocah Sudan ini mengumpulkan air kotor [Image Source]
13. Tidak terbayangkan jika kita ada di posisi orang-orang ini
Penduduk Guwahati, India, mengumpulkan air [Image Source]
Henpon ini sudah beberapa kali sengaja aku sita, aku sembunyikan dan aku buang di tempat sampah,Terakhir aku buang di...
Dikirim oleh Yohannes Pakdjo pada 23 Maret 2016






