Malam berjalan, kekasihku terlelap bersama sikecil di sampingnya. Diriku diliputi perasaan tak tenang dan gelisah. Duduk dan menghisap sebatang demi sebatang sebagai pengisi waktu agar kantuk segera datang. Ahhh kantukpun tak kunjung datang, akhirnya aku manfaatkan waktu tengah malamku untuk pembuatan jamu atau memasukkan kedalam botol-botol yang tampak mengkilap karena masih gres. Tak terasa jam hanphone sudah menunjukkan pukul 2 pagi lewat, kekasihku mungkin terkejut karena tidak mendapati aku yang seharusnya berada disampingnya. Dia berteriak dengan penuh keromantisan, maas sampean tilem binjeng sadean '' mas silahkan istirahat tidur besok jualan'' ucapnya. Akupun tak kuasa menolak permintaannya dan aku langsung tidur disampingnya, sembari bersembunyi dibalik selimut tebal warna kuning mentah.
Mas-mas sampun subuh, kekasihku membangunkanku. Lalu aku bangun dan bergegas mengambil wudlu untuk tunaikan sholat subuh berjamaah. Selepas sholat sayapun langsung melanjutkan pekerjaan semalam yang belum tuntas. Sedikit demi sedikit jamu itu saya tuangkan kedalam botol kemasan. Sementara kekasihku membungkusnya diplastik seperempatan, untuk tetangga yang menjualkan sebagaian daganganku.
Pukul 05 47 semua persiapan telah tertunaikan, sayapun pamit seperti biasa pada kekasihku. tapi sebelum itu, dia saya suruh untuk memotret diriku yang berangkat jualan dari belakang. Dengan keyakinan dan rasa optimis yang sangat kuat, saya melajukan motor dengan cepat. Tak berselang lama, tibalah saya di depan pabrik MPI Desa Karangbong gedangan. Melihat karyawan ada yang masuk, hati saya sangat senang. Bismillah saya turun dari sepeda motor.
Sekitar 20 menit, masih duduk diatas batu seukuran 2x bola basket namun bentuknya agak lonjong. Barulah ada pembeli yang datang. Alhamdulilah dapat penglaris lima ribu. Ibu yang memelarisi daganganku masih belum pergi jauh. Tiba-tiba rombong jamuku roboh dan jatuh keselokan. Untungnya selokan itu tidak ada airnya. Namun karena saya membawa bekal untuk cucian gelas, maka air itulah yang mengenai buku-buku yang ikut jatuh ke selokan. Basah, buku yang kubawa, karet, plastik dan daftar kartu peminjam buku. Aku tenangkan diriku, berusaha bersikap santai dan tidak terlalu terkejut. Ini untuk menutup atau mengurangi rasa malu, karena daganganku telah jatuh.
Dua gelas, jadi korban dalam tragedi ini, sudah tak terselamatkan lagi, sementara buku dan barang lain yang basah masih bisa aku bersihkan dengan kain lap yang kubawa. Perlahan aku naikkan rombongku, aku betulkan posisi motorku. lalu buku-buku dan jamu yang berada diselokan aku bersihkan semua. Ini adalah takdir tuhan dan kuasanya, aku tak akan mengutuk atau mensumpah serapah atas apa yang menimpaku barusan. Namun aku harus menerima, mungkin ini adalah sebagian ujian dari tuhan.
Tak selang berapa lama, Alhamdulilah ada lagi pembeli. Total uang yang aku dapat di depan pabrik MPI hanya sepuluh ribu rupiah. Sekitar pukul delapan, karyawan pabrik juga sudah pada masuk, lalu aku putuskan seperti biasa melanjutkan keliling ke kampung-kampung. Ya Allah, lelah menyusuri jalanan, daganganku tidak ada yang beli. Ingat uang modal kulakan yang semalam, bagaimana aku bisa menerangkan pada isteriku, tentang hasil jualan hari ini.
Sekitar pukul setengah 12, ada teman yang watsap ingin membeli jamuku. Akupun langsung meluncur ke sekolahan tempat dia mengajar. Alhamdulilah, disana aku dapat uang 50 ribu. Ngobrol kanan dan kiri, tentang buku dan jamu, tak terasa waktu sudah menunjuk angka satu. Mau tidak mau aku harus cepat pulang, karena tidak biasanya aku pulang diatas jam dua belas. Lngit mendung yang siap menumpahkan air kenikmatannya, aku terjang saja, berharap sudah bisa sampai dirumah sebelum air turun.
Baru sekitar limaratus meter dari sekolah tempat temanku mengajar tadi, langit telah mencurahkan airnya. Aku lajukan motorku dengan cepat, berharap bisa dapat tempat berteduh untuk menyelamatkan buku-buku yang ada digerobak jamuku. Hidup tidaklah bisa selalu mendapatkan apa yang diharap. Air hujan kian deras, aku baru mendapatkan tempat berteduh di tempat cucian motor. Alhamdulilah, walau bajuku radak basah, dan sebagian buku yang diatasnya juga basah, rada tenag udah dapat tempat berteduh yang nyaman, setidaknya di tempat berteduh ini, juga menjual kopi yang bisa menghangatkan tubuhku.
Angin bertiup kencang dan hujannya semakin deras. Arah angin yang membawa hujan juga mengenai buku-bukuku. Aku tak berdaya, karena tak mungkin aku mendapatkan penutup untuk menyelamatkan buku-buku tersebut. Menangis dalam hati, iya, aku menangis. Cengeng juga diriku. Padahal sebagai lelaki, aku gak boleh nangis, tapi untungnya tak ada orang yang berteduh sepertiku yang melihat ketika aku menangis meratapi buku-buku yang basah.
Adzan ashar sudah berkumandang, hujan reda setelahnya. Aku bergegas untuk pulang. Cacing dalam perut sudah berteriak-teriak minta hidangan, maklum, seharian dia hanya kemasukan kopi dan es pemberian satpam di sekolah temanku tadi. Serasa mau pingsan, perut melilit sakit, maahku kambuh kayaknya. Tak lupa aku ambil uang selembar seratus ribu di Atm, ini akan aku berikan pada isteriku, aku gak tega jika harus mengatakan jualan pertama sangatlah sepi. Aku berbohong ya aku berbohong dan itu memang sering aku lakukan ketika jualan sepi. Karena aku hanya tidak tega melihat isteriku tampak sedih, melihat aku pulang bawa uang sedikit. Aku berharap, dengan uang ini dia bisa tersenyum dan tidak lelah dalam memproduksi jamu yang dibuatnya dengan penuh cinta dan doa kesembuhan untuk para pembelinya.
Setiba dirumah, aku langsung minum segelas air hangat dan melanjutkan mandi.
Tak selang berapa lama, Alhamdulilah ada lagi pembeli. Total uang yang aku dapat di depan pabrik MPI hanya sepuluh ribu rupiah. Sekitar pukul delapan, karyawan pabrik juga sudah pada masuk, lalu aku putuskan seperti biasa melanjutkan keliling ke kampung-kampung. Ya Allah, lelah menyusuri jalanan, daganganku tidak ada yang beli. Ingat uang modal kulakan yang semalam, bagaimana aku bisa menerangkan pada isteriku, tentang hasil jualan hari ini.
Sekitar pukul setengah 12, ada teman yang watsap ingin membeli jamuku. Akupun langsung meluncur ke sekolahan tempat dia mengajar. Alhamdulilah, disana aku dapat uang 50 ribu. Ngobrol kanan dan kiri, tentang buku dan jamu, tak terasa waktu sudah menunjuk angka satu. Mau tidak mau aku harus cepat pulang, karena tidak biasanya aku pulang diatas jam dua belas. Lngit mendung yang siap menumpahkan air kenikmatannya, aku terjang saja, berharap sudah bisa sampai dirumah sebelum air turun.
Baru sekitar limaratus meter dari sekolah tempat temanku mengajar tadi, langit telah mencurahkan airnya. Aku lajukan motorku dengan cepat, berharap bisa dapat tempat berteduh untuk menyelamatkan buku-buku yang ada digerobak jamuku. Hidup tidaklah bisa selalu mendapatkan apa yang diharap. Air hujan kian deras, aku baru mendapatkan tempat berteduh di tempat cucian motor. Alhamdulilah, walau bajuku radak basah, dan sebagian buku yang diatasnya juga basah, rada tenag udah dapat tempat berteduh yang nyaman, setidaknya di tempat berteduh ini, juga menjual kopi yang bisa menghangatkan tubuhku.
Angin bertiup kencang dan hujannya semakin deras. Arah angin yang membawa hujan juga mengenai buku-bukuku. Aku tak berdaya, karena tak mungkin aku mendapatkan penutup untuk menyelamatkan buku-buku tersebut. Menangis dalam hati, iya, aku menangis. Cengeng juga diriku. Padahal sebagai lelaki, aku gak boleh nangis, tapi untungnya tak ada orang yang berteduh sepertiku yang melihat ketika aku menangis meratapi buku-buku yang basah.
Adzan ashar sudah berkumandang, hujan reda setelahnya. Aku bergegas untuk pulang. Cacing dalam perut sudah berteriak-teriak minta hidangan, maklum, seharian dia hanya kemasukan kopi dan es pemberian satpam di sekolah temanku tadi. Serasa mau pingsan, perut melilit sakit, maahku kambuh kayaknya. Tak lupa aku ambil uang selembar seratus ribu di Atm, ini akan aku berikan pada isteriku, aku gak tega jika harus mengatakan jualan pertama sangatlah sepi. Aku berbohong ya aku berbohong dan itu memang sering aku lakukan ketika jualan sepi. Karena aku hanya tidak tega melihat isteriku tampak sedih, melihat aku pulang bawa uang sedikit. Aku berharap, dengan uang ini dia bisa tersenyum dan tidak lelah dalam memproduksi jamu yang dibuatnya dengan penuh cinta dan doa kesembuhan untuk para pembelinya.
Setiba dirumah, aku langsung minum segelas air hangat dan melanjutkan mandi.
Itulah sebagian kisah, yang sering aku alami.@ fauzi penjual jamu
- Sebuah studi menempati Indonesia di peringkat ke 60 dalam kategori negara dengan perilaku terpelajar dan sumber daya yang mendukungnya.
- Penelitian dilakukan oleh John Miller, presiden Universitas Central Connecticut State di New Britain, menempatkan Finlandia sebagai negara paling terpelajar di dunia. Selain berfokus pada karakter sikap terpelajar seperti ketersediaan perpustakaan dan koran, penelitian ini juga menekankan pada tingkat literasi negara yang diteliti.
- Menempati urutan tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam persoalan tingkat literasi bangsa yang menjadi salah satu tolak ukur riset tersebut
- Muncul di tengah permukaan sosok Ridwan Sururi dan Fauzi Baim, dua dari mereka yang berjuang berkontribusi menjadi solusi
1. Ridwan Sururi dengan Luna bersama menjelajah kawasan Lereng Gunung Slamet menjalankan perpustakaan keliling
- Sejak awal Januari 2015, Ridwan Sururi menunggangi kuda bermuatan buku-buku untuk dinikmati dan dipinjam oleh warga khususnya anak-anak di Lereng Gunung Slamet, desa Serang, Purbalingga, Jawa Tengah.Luna, kuda yang kerap menemani Ridwan Sururi, pun saat ini dikenal dengan julukan 'Kuda Pustaka' karena kontribusinya bersama Sururi mewujudkan terciptanya perpustakaan berjalan yang sudah mendunia dengan masuk hingga ke berbagai pemberitaan media asing.Ide bermula dari kesehariannya sebagai perawat kuda profesional. Muncul suatu keinginan untuk memanfaatkan kuda-kuda yang dititipkan untuk hal yang positif. Ide menjalankan perpustakaan keliling pun muncul didukung dengan kian banyaknya bantuan berupa sumbangan buku dari teman-temannya.Ridwan juga bercerita kepada rekan media bahwa suatu hari pemilik kuda menghubunginya karena mereka mengetahui dari pemberitaan bahwa Ridwan sudah jadi sorotan media dengan kudanya. Menurut Ridwan, mereka tidak keberatan dan justru malah mendukung apa yang Ridwan lakukan dalam misi baiknya itu.says.com
2. Fauzi Baim yang meracuni para pelanggan jamunya virus membaca dengan menyertakan sejumlah buku di sepeda motor yang biasa ia kendarai untuk berjualan
- Warga Sukorejo Kecamatan Buduran itu rutin meletakkan sejumlah buku di sepeda motor jamu kawannya berkeliling memasarkan dagangannya dari pagi hingga sore. Pembeli bisa membaca di tempat atau meminjamnya secara gratis.Tidak berhenti disitu, Fauzi juga menitipkan sejumlah koleksi bukunya di warung-warung yang biasa ia lewati untuk memaksimalkan upayanya menularkan hobinya membaca. Dia memiliki cita-cita untuk mewujudkan program buku masuk 1000 warung.Belum lama ini, Fauzi juga kembali menjadi sorotan atas inovasinya memberikan jamu gratis bagi siapapun yang hafal Al-Quran.
- Simak video yang mengisahkan secara singkat sosok inspiratif penggerak perpustakaan berjalan berikut ini
Hari libur bukan berarti berhenti beraktivitas. Karena hari libur, aktivitas untuk mengembangkan skill pun semangat mereka jalani karena kecintaan mereka dengan belajar. Minggu pagi, Mobile Books Collection Indonesia (MBC Indonesia) melangsungkan salah satu programnya, yakni Anjangsana. Program berkunjung ke yayasan atau komunitas untuk berbagi kebahagiaan dan inspirasi.
Bekerjasama dengan perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat (PERPUSTIM), Sukorejo Sidoarjo Jawa Timur, tim MBC Indonesia datang dengan penuh semangat di kelas karakter, program dari PERPUSTIM yang berlangsung setiap minggu pagi bagi anak anak disekitar. Ide yang cemerlang dari sosok Pak Fauzi selaku founder PERPUSTIM Sidoarjo, yang semangat menggerakkan literasi melalui buku.
Dalam kelas karakter ini hampir tidak ada satu anak pun yang tidak suka membaca. Semua suka membaca buku. Yang paling menarik, setiap anak sudah manyadari betapa pentingnya membaca untuk mereka tau dunia dalam satu genggaman, membaca.
11 anak dengan mimpi mimpi besar itu semangat menuliskan mimpinya dalam kertas dengan dampingan tim MBC Indonesia, Anifa, Ratih dan Vidy. Selain menuliskan mimpi, merka juga diminta untuk menuliskan alasan apa yang mendorong mereka untuk mewujudkan mimpi itu. Menuliskan mimpi dan alasannya dikertas masing masing ini bertujuan agar mereka tetap bisa membaca mimpinya, dan menjadi semangat untuk mewujudkannya setelah membaca alasan memilih cita cita itu yang juga tertulis dalam kertas.
Di kelas karakter ini, Pak Fauzi sangat terbuka bagi siapapun pemuda/dewasa, siswa, mahasiwa , profesional yang terketuk hatinya untuk berbagi di kelas karakter setiap minggu pagi bersama anak anak pejuang mimpi ini. Sebab disadari atau tidak, masih banyak manusia apatis disekitar kita. Untuk itu berkoar mengajak orang untuk peduli rasanya susah susah gampang, untuk itu solusi terbaik adalah dimulai dari diri sendiri untuk peduli, hingga mengetuk hati orang lain untuk bergerak memberikan kontribusi materi maupun non materi.
Untuk datang langsung melihat kondisi PERPUSTIM Sidoarjo, bisa langsung mencari di mesin pencarian google, karena akan muncul peta lokasi yang mudahkan untuk menuju lokasinya. Sedikit kutipan dari Pak Fauzi, yang juga pernah meramaikan panggung Kick Andy “ Orang pintar dan kaya itu banyak. Tapi kita butuh orang yang peduli dan mau beraksi”. (Nif)
Peringatan HUT Proklamasi ke-71 Kemerdekaan RI tahun 2016 ini merupakan kado manis bagi Muhammad Fauzi atau yang akrabnya lebih sering dipanggil Fauzi Baim. Pasalnya, hal ini bersamaan dengan diraihnya penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka tahun 2016 dengan kategori Tokoh masyarakat yang peduli terhadap pengembangan perpustakaan dan kegemaran membaca dari Perpustakaan Nasional RI.
Seperti yang tertulis sebelumnya Muhammad fauzi juga menjadi juara satu dalam event yang digelar oleh gramedia. Fauzi menuturkan, bulan ini adalah bulan kemerdekaan baginya, dua penghargaan diraihnya dalam satu bulan. Adapun penyerahan penghargaan Nugra jasadarma pustaloka diserahkan pada Selasa, 16 Agustus 2016 pukul 18.30 Wib di Balai Kartini – Jakarta Pusat.
Nugra Jasadarma Pustaloka merupakan bentuk penghargaan tertinggi yang diberikan Perpustakaan Nasional kepada pihak-pihak yang dinilai telah berkontribusi besar bagi pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerahnya. Diantaranya adalah kategori koleksi deposit terbaik, bercerita tingkat SD/MI nasional, Pustakawan berprestasi tingkat nasional, perpustakaan umum kabupaten/kota terbaik nasional. Kategori media, kategori masyarakat, tokoh masyarakat dan lifetime achievement.
Lelaki yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu ini, merasa sangat beruntung bisa mendapatkan anugrah ini. Karena sebelumnya Fauzi tidak pernah menyangka jika bisa mendapatkan anugrah dari perpusnas. Mengingat profesinya hanya sebagai penjual jamu keliling dan membawa puluhan buku untuk dijajakan gratis dimasyarakat sekitar daerahnya. Memang lelaki ini layak untuk di apresiasi, betapa tidak, diluar aktifitasnya berjualan jamu. Di rumahnya Fauzi juga mendirikan Perpustakaan, Tpq, dan sekolah Paud, Tk dan Sd Islam gratis untuk siapapun yang mau memanfaatkan program yang digagasnya.
Perpustakaan yang digagasnya semenjak tahun 2011 dan diresmikan oleh kepala kantor Perpustakaan Dan Arsip kabupaten Sidoarjo pada tahun 2012 ini telah menciptakan berbagai macam inovasi yang memberikan kemanfaatan nyata bagi masyarakat. Adapun program yang menjadi andalan Fauzi yaitu BMWK atau buku masuk warung kopi dan STABATU stasiun baca tulis. Harapannya dua program andalan ini bisa meningkatkan literasi di masyarakat sidoarjo pungkasnya.
Adapun apresiasi yang didapat Fauzi dari kabupaten sidoarjo yaitu menjadi pemenang juara satu untuk kategori perpustakaan desa terbaik thn 2015. Untuk kegiatannya selama ini Fauzi selalu mensinergikan program perpustakaan yang dikelolanya dengan pemerintah setempat yaitu kepala kantor perpustakaan dan arsip kabupaten Sidoarjo juga berbagai pihak yang mau terlibat dalam peningkatan budaya baca.
Fauzi berharap anugrah ini bisa menjadi pintu awal guna melebarkan sayap yang bisa membentuk jaringan dengan belbagai pihak yang lebih luas lagi.












