REKOMENDASI

Ada yang menagih Janji Anies Baswesdan

You Are Here: Home» PEJABAT , PENDIDIKAN » PERPUSTAKAN DPR TERNYATA SEPI PENGUNJUNG.



Jakarta - Ketua DPR Ade Komarudin berencana membangun perpustakaan DPR yang terbesar se-Asia Tenggara. Sebenarnya, saat ini DPR sudah memiliki perpustakaan. Seperti apa bentuknya?

Perpustakaan dua lantai itu berada di Gedung Nusantara II, Kompleks MPR-DPR-DPD, Senayan, Jakarta Pusat. Ada dua pintu masuk yaitu dari area parkir dan dari lantai 2 di antara ruang Komisi III dan Komisi VIII.

Saat detikcom mengunjungi pada Rabu (30/3/2016) pukul 15.00 WIB, jumlah pengunjung bisa dihitung dengan jari. Hanya ada 1 pengunjung di lantai 1 dan 2 pengunjung yang membaca di lantai 2.

Pengunjung yang hadir mengisi buku tamu di komputer yang telah disediakan. Perpustakaan terbuka bagi masyarakat umum tetapi hanya anggota DPR, tenaga ahli, dan staf DPR yang bisa menjadi anggota serta meminjam buku.

Lantai 1 dikhususkan bagi pengunjung yang ingin membaca majalah dan koran. Menyusuri tangga yang sempit dan gelap, pengunjung lalu sampai ke lantai 2 yang lebih luas.

Sofa empuk dan meja yang dilengkapi komputer disediakan untuk pengunjung. Pendingin ruangan membuat suasana cukup nyaman tetapi sayangnya tidak banyak yang menikmatinya.

Salah satu penjaga perpustakaan menyebutkan bahwa ada sekitar 21.000 judul buku di perpustakaan ini. Sementara jumlahnya lebih dari 25.000 buku.

Ribuan buku ini dikelompokkan di rak-rak buku. Mulai dari tentang hukum, politik, komputer, manajemen, hingga fiksi ada di perpustakaan.

Tidak hanya buku, ada pula risalah rapat hingga rancangan undang-undang yang disimpan. Sayangnya, sebagian besar hanya diletakkan begitu saja tanpa tertata rapi.

Ada pula buku yang belum terbuka masih terbungkus kertas cokelat. Beberapa rak juga masih kosong dan bisa diisi buku-buku lagi.

Meski sudah memiliki perpustakaan, DPR kini bermimpi membangun perpustakaan baru yang memuat 600.000 buku. Pembangunannya pun akan menggunakan anggaran gedung baru yang sudah ada di APBN 2016 sebesar Rp 570 miliar.

Wacana ini mencuat setelah Ade Komarudin menerima usulan dari para cendekiawan. Dia pun gigih memperjuangkan meski sejumlah fraksi sudah meminta proyek ini ditunda.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pernah ditanya mengapa harus membuat perpustakaan baru meski sudah ada yang lama. Menurutnya, yang lama tidak memadai karena hanya setingkat level RT.

"Yang lama ada tapi mirip perpustakaan ketua RT. Saat ini kondisinya tidak layak. Bukunya diikat di bawah, numpuk. Buku yang diterbitkan anggota DPR tidak ada tempatnya," ujar Fahri.

Merdeka.com - Wacana pembangunan perpustakaan DPR senilai Rp 570 miliar terus menuai polemik. Apalagi usulan itu rencananya dibangun bersamaan dengan pembangunan gedung DPR baru.

Kondisi perpustakaan dimiliki DPR saat ini sebenarnya cukup nyaman. Letaknya berada di sebelah Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta. Perpustakaan itu terdiri dari dua lantai, yakni ruang baca koran dan ruang buku-buku.

Terlihat buku-buku tertata rapi dan didukung oleh kondisi ruangan sejuk dan wangi. Untuk para pengunjung, perpustakaan ini juga dilengkapi dengan 9 buah komputer untuk mencari katalog buku. Terdapat lebih dari 25.000 literatur dari pelbagai latar dispilin ilmu dalam perpustakaan ini.
Perpustakaan DPR (c) 2016 merdeka.com/marselinus gual
Tak banyak pengujung datang hingga siang hari ketika merdeka.com mendatangi perpustakaan milik DPR ini, Kamis (31/2). Hanya beberapa karyawan dan staf ahli anggota DPR duduk dan berdiam dibalik meja komputer. Dari data yang diterima, selama periode Januari hingga Desember 2015, tercatat 4.953 pengunjung telah hadir di perpustakaan ini.

Menurut salah seorang petugas perpustakaan DPR yang enggan menyebutkan namanya, para pengujung yang datang rata-rata merupakan tenaga ahli anggota DPR. Anggota DPR menurutnya jarang datang.

"Anggota DPR jarang datang biasanya hanya tenaga ahli," katanya kepada merdeka.com.
Perpustakaan DPR (c) 2016 merdeka.com/marselinus gua
Untuk pimpinan DPR, mantan Ketua DPR Setya Novanto tercatat pernah mengunjungi perpustakaan ini. Namun, kehadirannya hanya sebatas kunjungan. Begitu pula Ade Komarudin, Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Mereka pernah datang tapi hanya untuk melihat kondisi perpustakaan.

Sebelumnya, Ketua DPR Ade Komarudin mengatakan rencana ini sangat bagus untuk menunjang kualitas anggota DPR di tengah buruknya citra oleh pelbagai kasus. Perpustakaan baru yang disebut bakal terbesar di Asia Tenggara ini, menurut dia, lahir karena adanya usulan para cendikiawan Indonesia seperti Ignas Kleden, Ulil Abshar Abdalla, dan Ayu Utami.

0 komentar

Leave a Reply